LPA Deli Serdang Ingatkan Lomba 17 Agustus: Jangan Jadikan Anak Penonton Hiburan Orang Dewasa

Daerah 11 Aug 2026 10:38 4 min read 9 views By Admin

Share berita ini

LPA Deli Serdang Ingatkan Lomba 17 Agustus: Jangan Jadikan Anak Penonton Hiburan Orang Dewasa
LPA Deli Serdang Ingatkan Lomba 17 Agustus: Jangan Jadikan Anak Penonton Hiburan Orang Dewasa

Rakyat Bersuara News | Deli Serdang — Panggung perayaan kemerdekaan semestinya menjadi ruang anak belajar tentang Indonesia. Namun, ketika kemeriahan dijadikan alasan untuk menampilkan pertunjukan yang tidak sesuai dengan usia mereka, pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab tak bisa dihindari.


Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Deli Serdang mendapat sorotan dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Deli Serdang.


Lembaga itu mengingatkan panitia perayaan, pemerintah kecamatan dan desa, sekolah, organisasi kepemudaan serta masyarakat agar tidak menyisipkan materi atau bentuk hiburan yang dinilai tidak sesuai bagi perkembangan anak.


Ketua LPA Kabupaten Deli Serdang, Junaidi Malik, S.H., C.Ht., meminta setiap konsep lomba dan pertunjukan yang melibatkan anak diperiksa terlebih dahulu.


Bukan hanya soal lucu atau tidak lucu, melainkan apakah tontonan tersebut layak disaksikan anak dan memiliki nilai edukasi. “Jangan karena alasan hiburan dan kemeriahan, kemudian kita memasukkan materi atau bentuk perlombaan yang mempertontonkan atau menirukan perilaku seksual maupun ekspresi gender tertentu di hadapan anak.


Jangan sampai yang dianggap hanya candaan justru menjadi tontonan yang kemudian ditiru dan dinormalisasi,” kata Junaidi. Ketika Candaan Menjadi Tontonan Di sinilah persoalan yang diangkat LPA menjadi lebih dari sekadar urusan lomba tujuhbelasan.


Anak tidak selalu memiliki kemampuan untuk memilah konteks sebuah pertunjukan sebagaimana orang dewasa.


Sesuatu yang bagi penonton dewasa dianggap parodi atau bahan tertawaan dapat diterima anak sebagai perilaku yang wajar untuk ditiru.


Karena itu, Junaidi meminta penyelenggara tidak menyerahkan seluruh konsep hiburan kepada pertimbangan popularitas dan kelucuan semata.


Menurut dia, kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk memperkenalkan nasionalisme, gotong royong, sportivitas, kreativitas, budaya daerah dan penghargaan terhadap sesama. “Jangan sampai yang dianggap hanya candaan justru menjadi tontonan yang kemudian ditiru dan dinormalisasi,” ujarnya.


Namun LPA juga memberi garis batas yang penting: perlindungan anak tidak boleh berubah menjadi pembenaran terhadap kebencian atau kekerasan terhadap siapa pun.


Melindungi Anak, Bukan Memburu Orang Junaidi mengatakan LPA tidak mendorong penghinaan, persekusi maupun tindakan kekerasan terhadap kelompok atau individu tertentu. “Kita harus membedakan antara menghormati setiap manusia dengan mempertontonkan suatu perilaku kepada anak. LPA tidak mengajarkan kebencian, kekerasan, penghinaan atau persekusi.


Yang kami dorong adalah tanggung jawab orang dewasa untuk memberikan tontonan dan keteladanan yang baik kepada anak,” katanya. Pernyataan itu menempatkan persoalan pada wilayah yang lebih jelas: konten kegiatan anak harus diawasi, tetapi manusia tetap harus diperlakukan secara bermartabat.


Dengan demikian, pencegahan seharusnya dilakukan melalui edukasi, pengawasan orang tua, keteladanan dan pengelolaan kegiatan yang bertanggung jawab—bukan melalui tindakan main hakim sendiri. Ada Banyak Pilihan Selain Sensasi LPA Deli Serdang menawarkan pilihan yang sebenarnya tidak sulit dilakukan. Permainan tradisional, olahraga, cerdas cermat kebangsaan, membaca puisi, storytelling kepahlawanan, seni budaya daerah, menggambar, mewarnai hingga gotong royong keluarga dapat menjadi bagian dari perayaan.


Kegiatan semacam itu bukan hanya menghibur. Ia memberi kesempatan kepada anak untuk bergerak, berkompetisi secara sehat, bekerja sama dan mengenal lingkungan sosialnya. Tantangannya justru berada pada penyelenggara: apakah perayaan kemerdekaan hendak diukur dari seberapa ramai penonton tertawa, atau dari nilai apa yang dibawa pulang oleh anak-anak setelah acara selesai?


Pemerintah Jangan Sekadar Menjadi Penonton LPA kemudian mendorong Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, pemerintah kecamatan dan desa, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan serta orang tua ikut memastikan kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang melibatkan anak berlangsung aman dan ramah anak.


Pesannya sederhana, tetapi konsekuensinya tidak kecil: orang dewasa yang memilih konsep kegiatan juga memikul tanggung jawab atas ruang yang mereka ciptakan untuk anak. Sebab perayaan kemerdekaan bukan hanya soal panggung, pengeras suara dan hadiah lomba.


Di tengah kerumunan itulah anak melihat perilaku orang dewasa, menyerap pesan, lalu membentuk pemahamannya tentang apa yang dianggap pantas dan tidak pantas. "Kemerdekaan bukan sekadar pesta dan hiburan.


Mari kita rayakan dengan kegiatan yang membuat anak-anak gembira, belajar, berkarya, mencintai Indonesia dan menghargai sesama.


Jangan jadikan anak sebagai sasaran hiburan orang dewasa,” kata Junaidi.


Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pesta kemerdekaan bukan hanya seberapa meriah acara berlangsung.


Ukurannya juga adalah apa yang ditinggalkan acara itu dalam ingatan anak-anak: nilai kebangsaan, sportivitas dan kegembiraan—atau sekadar tontonan yang seharusnya belum menjadi konsumsi mereka.(SWL)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Rakyat Bersuara News